Thursday, November 18, 2010

cinta Fitriseason 6


Sinetron Menjadi Tontonan Utama Televisi

Sinetron (sinema eletronik) atau yang dikenal diluar negeri yang biasa disebut opera sabun. Sinetron yang saat ini merupakan tayangan yang sangat venomenal bagi penonton televisi. Sinetron bisa mengambil jam prime time acara televisi jam 19.00 sampai jam 22.00. Seperti halnya cinta fitri yang tayang di SCTV setiap hari jam 21.00, sinetron yang menceritakan keluarga yang besar yang selalu dirundung masalah. Dalam sinetron cinta Fitri season 6 yang dibintangi oleh Shareen Sungkar (Fitri), Tengku Wisnu (Farel) dan Dinda Kanya Dewi (Miska) mengisahkan tentang keluarga Farel dan Fitri yang ingin dipisahkan oleh Miska. Miska yang ingin merebut harta Farel dan ingin menghancurkan Fitri karena kesal dengan Fitri yang selalu menghalangi keinginannya mengambil Farel darinya dan harta Farel. Faiz yang dulu suaminya Miska sekaligus kaki tangannya Miska sekarang malah membantu Fitri dalam menghalangi rencana Miska. Dalam episode ini diceritakan Farel yang sedang hilang ingatan melupakan Fitri istrinya dan hanya mengingat Miska, namun lambat laun Farel mulai sadar dan mulai pulih dari ingatannya ketika Farel yang dirawat dirumah sakit mulai sedikit demi sedikit mengingat masa lalunya, saat itu Farel yang ingin pulang dan menemui Fitri menanyakan semua apa yang terjadi yang tidak diketahuinya.
Saat Farel ingin pulang kerumah dari pihak rumah sakit menelepon Fitri bahwa Varel sedang sekarat dirumah sakit dan menyebut-nyebut namanya ternyata yang menelepon bukan dari rumah sakit melainkan Miska yang tak ingin mempertemukan Farel dan Fitri akhirnya Fitri dan Farel saling cari-mencari. Datang Miska yang ingin berusaha membunuh Fitri dengan menyuruh orang-orangnya untuk menabrak taxi yang ditupanginya. Ketika Farel berusaha menghubungi Fitri, Fitri malah ditabrak oleh sebuah truk suruhan Miska. Seketika itu Fitri yang sedang berbicara dengtan Farel langsung teriak dan terjatuh kedalam danau bersama taxinya. Dengan teriakan Fitri yang keras Farel pun merasa  kepalanya sakit karena ia mengingat kembali ingatnnya. Akhirnya Fitri pun tertabrak dan jatuh kedanau. Farel berusaha mencari Fitri tetapi tidak ketemu, malamnya Farel mengikuti Miska pergi. Farel mencurigai Miska bahwa ia dalang dari semuanya kejadian yang menimpa Fitri. Farel terus mengikuti Miska dan berharap menemukan Fitri. Farel terus mencari Fitri didekat danau tetapi Fitri telah ditemukan oleh orang lain yang tak dikenal. Ternyata Miska dan anak buahnya sudah dahulu mengetahui keberadaan Fitri. setelah menemukan Fitri, Fitri pun hilang lagi dibawa oleh laki-laki yang pertama kali menemukannya. Dan Farel menemukan laki-laki itu bersama Fitri tetapi Farel tidak boleh mendekat dan mengambil istrinya, dan begitu seterusnya selalu dioper-oper kesana kemari agar ceritannya semakin panjang. Tidak hanya kisah Fitri dan Farel masih banyak kisah-kisah lain yang terjadi disinetron ini seperti Double Bracket: Salah satu adegan dalam sinetron “Cinta Fitri”dari Farel yang divonis oleh kisah Adi dan Keyla, Keyla adik dokter bahwa umurnya tak lama lagi akibat sakit yang dideritanya leukemia. Keyla berusaha mencarikan calon suami untuk istrinya yang hanya membuat dia tersiksa dan perasaannya tambah sakit. Ada pula kakak Farel bernama Maya yang bercerai dengan suaminya Bram. Maya sudah tidak mencintai suaminya lagi karena maya mencintai laki-laki lain. Dan begitu seterusnya selalu terjadi masalah-masalah baru yang bermunculan yang tak pernah usai.
Tidak mendidik dan Menghibur
Cinta Fitri memang sering membuat geregetan setiap orang yang menonton, tetapi jika semakin lama ceritanya terus diputar-putar malah akan menjadi semakin membosankan. Yang tadi sudah bertemu didepan mata tiba-tiba lepas begitu saja sampai berkali-kali, itulah yang sering terjadi. Tetapi disitu lah kekuatan sinetron bila sinetron itu sudah dicintai dan retingnya tinggi maka pembuat program akan sulit untuk menariknya dan mengganti dengan program lain dan itu merupakan keuntungan bagi pembuat, karena akan terus tayang. Pembuat program akan berfikir sepuluh kali bila sinetron yang sudah disukai akan diganti dengan program lain. Tetapi jika sinetron ini dirasa telah menjenuhkan maka akan dihentikan sesaat diganti dengan tayangan lain yang hanya sebentar dan kemudian  akan diganti lagi menjadi sinetron awal.
Adegan tampar menampar, pukul-memukul kerap kali ditonjolkan dalam sinetron, banyak hal yang tak pantas diperlihatkan menjadi pantas untuk diperlihatkan. Tetapi itulah pembuat program selalu membaca kemauan penontonnya. Jika tidak ada adegan seperti itu malah dirasa kurang seru dan menarik. Seperti teori cultivation program yang ditanam dalam benak yang bertahun-tahun akan menjadi terbiasa, dan dalam hal ini hal semacam itu telah dianggap biasa.
Sekarang ini dunia sinetron telah memasuki kalangan masyarakat penikmat televisi khususnya ibu-ibu rumah tangga yang tak ingin tertinggal dalam menonton sinetron cinta Fitri, tidak hanya Cinta fitri, taxi yang tayang di SCTV, Cinta Bunga, Hinayah, Nikita di RCTI, dan sinetron lainnya yang akan segera hadir di televisi. Sejauh ini sinetron memang sangat digemari tidak hanya oleh ibu-ibu tetapi bapak-bapak juga menjadi ketagihan ketika istrinya sedang menonton mereka pun ikut.
Dalam sinetron cinta Fitri tata artistik yang digunakan adalah setting kehidupan sehari-hari seperti rumah, kantor, dan lingkungan sekitar yang biasa kita jumpai. Kostum yang dipakai adalah baju kantor dan baju sehari-hari yang biasa kita pakai. Make up yang digunakan oleh pemainnya hanya menggunakan make-up coretif dan make-up cantik, karena hanya menggunakan setting keseharian saja. Property yang digunakan pun relatife sederhana karena mengikuti tema yang dibuat oleh sipenulis dan keinginan sutradara. Editing yang dipakai pun masih editing yang biasa digunakan dalam sinetron-sinetron pada umumnya hanya menggunakan editng kontiniti, transisi yang digunakan cut to cut dan dissolve untuk mengganti perubahan waktu. Dalam pengambilan gambar relatife menggunakan clouse up dan medium shot karena melihat sifat televisi yang tidak sama dengan bioskop karena format televisi yang hanya 4:3 jadi pengambilan gambar yang dipergunakan hanya close up dan medium shot saja. Kenapa menggunakan editng kontiniti karena lebih mudah dipahami dibanding dengan diskontiniti. Juka menggunakan diskontiniti penonton akan lebih sulit memahiami dan jika terjadi seperti itu program tersebut akan ditinggal oleh penontonnya. Kenapa menggunakan transisi dissolve biasanya transisi ini digunakan untuk pergantian waktu. Contoh pada saat Farel mengingat masa lalunya digunakan transisi dissolve untuk mengingat kejadian-kejadian yang pernah ia lupakan.
Sebenarnya tidak mudah dalam membuat tayangan yang setiap hari harus tayang tetapi itu lah tuntutan para pembuat sinetron yang dulu hanya ditayangkan seminggu sekali sekarang telah menjadi setiap hari, membuat pekerjaan menjadi harus lebih cepat. Ketelitian dan kekreatifan memang sangat penting tetapi dalam sineron saat ini sudah tak dihiraukan lagi yang penting besok tayang, itulah yang penting. Dalam Cinta Fitri season 6 episode episode 69 terlihat hal yang janggal ketika Miska, Faiz dan Farel bertemu diceritakan bahwa adegan itu malam hari, tetapi saat penggambilan gambar Farel adegan itu menjadi sore hari. Sebenarnya ini sesuatu yang fatal tetapi karena dikejar deatline dan sebagainya hal ini tidak menjadi persoalan dan tak ada yang peduli yang penting bagaimana cerita itu sampai kepada penonton. 

Tuesday, January 13, 2009



ANAK ANAK BOROBUDUR



Pemain : Christine Hakim, Djenar Maesa Ayu, Nungki Kusumastuti, Andadiri Tanpalang, Alexandra T. Gottardo, Butet Kertaradjasa,
Sutradara : Arswendo Atmowiloto
Produser : -
Distributor : -
Penulis : Arswendo Atmowiloto


Di sebuah desa yang dikelilingi tujuh gunung di sekitar Candi Borobudur, sebagian penduduk mencari nafkah dengan menggali bebatuan untuk diukir menjadi patung, sebagian menggali pasir dari perut bumi. Demikian juga Amat (Adadiri Tanpalang), bocahkelas lima, yang kadang membantu ayahnya, Pak Amat (Adi Kurdi) yang bisu. Suasana yang damai, ceria, berubah ketika Amat mengembalikan piala kemenangan lomba membuat patung batu. Alasan Amat, patung itu diselesaikan ayahnya dan diserahkan oleh Siti (Acintyaswasti Widianing). Ia merasa tidak berhak menerima. Penolakan ini mencerai-beraikan ikatan kebersamaan dan kerukunan yang selama ini ada.

Akibatnya Amat dilarang masuk sekolah, dan ayahnya diberhentikan. Amat tak bisa mendapat nasihat dari ayahnya yang bisu. Juga tak bisa dari Yoan (Lani Regina), teman baru yang berbau Jakarta, cucu Eyang Putri (Nungki Kusumastuti) yang pandai menari. Bahkan dari Mbak Mi (Djenar Maesa Ayu) perempuan pengasong yang membesarkan anaknya yang lumpuh layu. Semua memusuhi, atau menjauhi, kecuali hantu sawah. Pada hantu sawahlah, ia mengadu. Sampai akhirnya seorang pengamat seni, Doni (Butet Kartaredjasa) menuliskan bahwa patung itu karya Amat dan hukuman pengasingan bagi Amat tidak mendidik. Doni adalah
pacar ibu guru Ayu (Alexandra T.Gottardo).

Perubahan terjadi ketika Gubernur Jawa Tengah, Ibu Suryani (Christine Hakim) datang dan memberikan hadiah secara langsung. “Hadiah untuk keberanian, untuk kejujuran.” Akankah Amat menolak untuk kedua kalinya? Siapa sesungguhnya yang lebih berani dan lebih jujur menghadapi kehidupan ini: Mbak Mi yang mengasuh anak yang tak mungkin sembuh, Siti yang patuh, atau Yoan dan Eyang Putri yang berlabuh di dunia masa sekarang ini?

film dokumenter

Film Dokumenter Tayangkan Trauma Mantan Prajurit Israel Siksa Warga Palestina

pic499.jpgMinggu ini, sebuah stasiun televisi di Israel akan menayangkan sebuah film dokumenter yang menampilkan cerita tentang trauma enam mantan prajurit perempuan Israel karena menyaksikan atau terlibat dalam penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan militer Israel terhadap rakyat Palestina. Dalam film tersebut, salah seorang mantan prajurit sengaja berfoto-foto sambil menggosok-gosok mayat seorang warga Palestina. Prajurit lainnya, menelanjangi seorang laki-laki Palestina kemudian memukuli laki-laki itu. Seorang prajurit lagi menolong rekan-rekannya yang sedang menyiksa seorang remaja Palestina.

Film berjudul “To See If I’m Smiling” sengaja memberikan kesempatan bagi enam perempuan mantan prajurit Israel itu untuk mengungkapkan kenangan-kenangan yang tak kan pernah hilang, saat menjalankan kewajibannya sebagai prajurit militer.

Setelah bertahun-tahun mengubur pengalaman masa lalu yang buruk, mereka akhirnya mau bicara dalam film yang membeberkan sisi gelap selama 40 tahun Israel menjajah bangsa Palestina. Para mantan prajurit itu juga mengungkapkan apa dampak dari perlakukan buruk Israel itu dari generasi ke generasi, baik baik laki-laki maupun perempuan.

“Sangat mudah untuk menyelesaikan tugas kemiliteran dan mencoba untuk tidak memikirkannya lagi. Tapi perempuan-perempuan ini menceritakan pengalaman pribadi mereka-yang tidak selalu indah-untuk menunjukkan pada semua orang apa yang sedang terjadi, ” kata Tamar Yarom, sutrada film “To See If I’m Smiling.”

Semua mantan prajurit kecuali satu orang, yang tampil dalam film tersebut, terpaksa bertugas sebagai tentara karena aturan wajib militer yang berlaku di Israel. Mereka bertugas pada saat meletusnya gerakan Intifadah tahun 2000. Mereka menceritakan bagaimana mereka harus menyesuaikan diri dengan situasi kemiliteran yang keras.

Seorang perempuan yang bertugas sebagai paramedis mengungkapkan, dia bertugas menggosok mayat-mayat warga Palestina untuk menyembunyikan bekas-bekas penyiksaan tentara Israel. “Saya pikir saya akan bisa melupakan semua itu, tapi tidak bisa, ” tuturnya sambil mengusap air matanya.

Lewat film ini, sang sutradara, Tamar Yarom berharap Israel-negara di mana militer menjadi inti identitas nasionalnya-mau melakukan pencarian jati diri dan mendorong prajurit-prajurit Israel lainnya yang mengalami trauma untuk berani bicara tentang tindak kekerasan yang mereka lakukan atau pernah mereka saksikan.

“Negara ini sedang dalam kondisi koma. Dengan semua serangan dan bom, kita mati rasa, ” kata Yarom.

“Orang-orang berpikir bahwa kita sedang perang untuk bertahan hidup, dan akan lebih baik jika tidak mengkritik para prajurit karena merekalah yang melindungi kita, ” sambungnya.

Yarom berharap filmnya akan memicu daya kritis baik dari kelompok kiri-yang selama ini bersimpati pada para prajurit Israel, maupun kelompok kanan-kelompok yang kerap mengecap militer Israel.

Menurut Yarom, pengalaman pribadinya lah yang mendorongnya membuat film, yang diperkirakan akan menjadi kontroversi itu. Yarom pernah bertugas sebagai prajurit cadangan saat pecah pertikaian Israel-Palestina tahun 1980-an. Dia melihat seorang warga Palestina yang menjadi korban penyiksaan militer Israel, tapi ia tidak bisa berbuat sesuatu. Selama hampir dua dekade Yarom masih tidak mampu menghapus kenangan buruk itu. Ia masih ingat dengan jelas wajah korban yang berlumuran darah, dengan leher terkulai.

“Gambar seperti ini akan melekat pada diri Anda selamanya. Selama masa tugas saya, saya melepaskan diri sendiri dari bayangan itu. Dan ketika Anda teringat lagi, rasanya sangat sakit, ” tukas Yarom.

twilight

hmhmhmhm
















lutu...










Kritik Sosial Dalam Festival Film Pendek



Pepok dan Sugeng adalah pelatih seni tari. Suatu ketika Sugeng merasa bosan dengan profesi yang dijalaninya sampai datanglah Bimo seorang anak penari breakdance (breaker) yang kebetulan teman satu kampung dengan mereka. Ia mengajak Sugeng untuk bergabung dalam komunitasbreak dance. Disaat Pepok diminta menunjukkan kebolehannya menari break dance, Pepok malah dengan percaya diri menarikan tarian Klono Topeng. Ternyata hal tersebut membuat teman-teman Sugeng tertarik sehingga pada akhirnya beberapa anak breaker ikut latihan menari Klono Topeng. Demikianlah salah satu cerita film pendek “Klono Topeng” karya sutradara Dicko Joneda pemenang favorit ajang Psychocinema Festival yang digelar oleh himpunan mahasiswa psikologi Unika Atmajaya.

Kritik terhadap budaya seni tradisi yang tersingkir oleh modernisasi (baca: budaya barat) namun tetap kukuh dipertahankan nampaknya menjadi salah satu faktor film karya Dicko peserta asal Yogyakarta ini menjadi pemenang. Acara yang sudah memasuki tahun ke-3 ini menetapkan tiga pemenang untuk kategori film pendek yang diikutsertakan dalam festival ini. Film lainnya yang menjadi pemenang adalah “Pacarku Lina” (sutradara Louis Oktavianus Sutanto) dan “Papa Hau” (sutradara Yandy Laurens) yang dibintangi oleh pemeran “Ca Bau Kan” Ferry Salim dan Wulan Guritno. Adapun kedua film tersebut berasal dari Jakarta.

“Kami sengaja tidak menetapkan tiga pemenang dalam festival ini. Jadi tidak ada pemenang pertama sampai ketiga. Yang ada dari sepuluh film yang diikutsertakan adalah tiga film pemenang favorit,” ucap budayawan Remy Sylado, salah seorang juri Psychocinema Festival.

Remy yang juga pernah menjadi juri Festival Film Indonesia ini tidak sendirian. Dalam ajang Psychocinema Festival ini ia ditemani sineas Nan T. Achnas dan Eric Santosa, dosen psikologi Atmajaya. Selain menetapkan tiga pememang yang masing-masing berhak menggondol hadiah piala dan uang senilai Rp.1.150.000 ini, para juri juga menetapkan aktor dan aktris terbaik. Mereka adalah Andi dalam film “Klono Topeng” dan Lina dari film “Pacarku Lina”. Sementara untuk kategori sutradara terbaik diraih oleh sineas asal Yogyakarta, Ismail Basbeth (film “Hide and Sleep”).

“Yang menarik dalam ketiga film yang menjadi pemenang tersebut adalah kekuatan masing-masing sineas mengeksplor pelbagai kritik sosial dalam film-filmnya,” ujar Eric Santosa, salah satu juri.

Sebutlah misalnya “Pacarku Lina” yang mengisahkan hubungan kisah kasih asmara Lina seorang gadis keturunan China dengan pemuda Jawa. Masing-masing kedua orangtua mereka melarang hubungan tersebut lantaran perbedaan etnis.

Sedangkan film “Papa Hau” yang kebetulan diperankan aktor –akltris kategori “bintang” yaitu Ferry Salim dan Wulan Guritno ini mengisahkan seorang ayah (pria keturunan Tionghoa) yang berkulit putih hidup berdua dengan “anaknya” yang masih kecil dan berkulit gelap. Pada suatu hari secara tidak sengaja sang anak yang merupakan buah dari hasil permerkosaan istrinya pada kerusuhan Mei 1998 itu, menyadari bahwa ia berbeda dengan ayahnya. Ia lalu mengungkapkan emosinya pada ayahnya karena tidak menerima kenyataan tersebut. Ketabahan dan ketulusan kasih sang ayah menjadi jawaban atas perbedaan mereka.

Selain ketiga film pemenang yang diputar dalam acara puncak Psychocinema Festival, diputar film lain berjudul “Sunatan Massal” karya sutradara asal Yogyakarta, Luhki Herwanayogi dan tentu saja “Hide and Sleep” yang meraih penghargaan sutradara terbaik. “Sunatan Massal” mengisahkan seorang bocah dari keluarga beragama Katolik yang mengikuti hajatan “sunatan massal” yang digelar di dekat sekolahnya.

Sedangkan film “Hide and Sleep” mengisahkan Ramlan, seorang pemuda di sebuah kamar kos kebingungan ketika bangun dari tidurnya mendapati beberapa wanita berada dalam kamarnya. Dalam ingatannya dia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi semalam karena semua terlihat aneh dan janggal. Meskipun bukan salah satu pemenang, film yang kaya dengan gambar bernuasa metafora ini menyabet penghargaan sutradara terbaik menyisihkan sepuluh film lainnya yang diikutsertakan dalam ajang yang digelar tiap tahun oleh mahasiswa psikologi Unika Atmajaya ini.

Selain pemutaran film yang menjadi pemenang acara puncak yang digelar di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI) ini juga diramaikan dengan pemutaran film dan diskusi “The Photograph” oleh Niniek. L. Karim (8/11) dan kemudian ditutup dengan penampilan grup musik Efek Rumah kaca yang membawakan lagu-lagu dari album pertama hingga album keduanya yang bakal dirilis bulan September 2009.